Keberadaan Paroki Santa Maria Assumpta Klaten yang senantiasa berbenah, tumbuh dan berkembang hingga saat ini, ternyata berkaitan dengan sejarah panjang yang bermula dari berdirinya Sekolah Van Lith di Muntilan pada 1907. Kelahirannya diwarnai oleh berbagai peristiwa yang terjadi dalam perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia. Pertumbuhan dan perkembangan Paroki Klaten ini juga berkaitan dengan berdirinya Biara Suster Ursulin, Bruderan FIC, Rumah Retret Panti Semedi, serta pembangunan Gereja Santa Maria Assumpta Klaten. Perkembangan selanjutnya ditandai dengan berdirinya Paroki-paroki dan Stasi-stasi baru, serta pemekaran Wilayah dan Lingkungan di Paroki Klaten. Periode pertumbuhan dan perkembangan dilanjutkan dengan pembangunan Pastoran dan Kantor Pelayanan sesuai dengan kebutuhan dan dinamika umat.
Pada 1907 Fransiskus Gregorius Yosephus Van Lith, SJ, yang lebih dikenal dengan Pastor Van Lith, membuka sekolah di Muntilan dan Mendut dengan nama Kweek School. Sekolah ini bertujuan mengangkat harkat dan martabat orang-orang pribumi, agar dapat menjadi tuan di negerinya sendiri. Siswa Sekolah Van Lith berasal dari berbagai tempat, karena Pastor Van Lith mencari siswa hingga ke Yogyakarta, Solo, dan Klaten.
Pada 1909 Pastor Van Lith datang ke Klaten untuk mencari murid. Beliau menawarkan kepada para murid untuk belajar di Muntilan. Beberapa murid menerima tawaran tersebut, diantaranya adalah Rustam, Ramelan (alm. Pastor Josowiharjo, SJ), Mikun, Radjiman, Sutedjo, Sukardja, dan lain-lain. Inilah benih-benih awal tumbuhnya Gereja Katolik pribumi di Klaten.
Pencarian benih umat Katolik ini dilakukan oleh Pastor Van Lith dengan cara secara rutin mendatangi SD Ngepos setiap awal tahun pelajaran. Sejak 1915 sering diselenggarakan kegiatan katekese dan pewartaan di Klaten. Pelajaran agama untuk calon baptis dilaksanakan di kediaman Bapak Sutadikromo di Dusun Sikenong.
Pada masa itu umat Katolik di Klaten hanya merayakan Ekaristi tiga bulan sekali. Perayaan Ekaristi dipimpin oleh Pastor Cornelis Stiphout, SJ dari Ambarawa, didampingi oleh Vitus Saiman, pemuda dari Blateran sebagai juru warta. Beberapa waktu kemudian ada tambahan gembala, yaitu Pastor Henricus van Driessche, SJ. Misa Kudus saat itu diselenggarakan di kediaman seorang warga negara Belanda, yaitu di rumah Tuan Jongenelen di Nurlalen.
Dengan alasan tempat lebih luas, pada 1920 pelajaran agama berpindah dari rumah Bapak Sutadikromo ke rumah Bapak Wignyamarwata. Bapak Wignyamarwata kemudian dibaptis dan menjadi guru agama pertama di Klaten. Pada 1921 Pastor Janssens, SJ dibantu Pastor H. Van Driessche SJ mengunjungi Wedi dan Klaten. Kemudian pada tahun itu juga, Pastor Janssens dibantu Pastor Henricus van Driessche, SJ memprakarsai berdirinya gereja pertama di Klaten dengan kapasitas 30 orang di Kauman.
Melihat suburnya pertumbuhan umat Katolik di Klaten, pada 19 Oktober 1920 Pastor Van Lith dibantu oleh para katekis dan tenaga pengajar, membuka HIS (Hollands Inlandse School) di Klaten. Pada mulanya usaha Pastor Van Lith tersebut ditolak oleh Pemerintah Hindia Belanda. Namun dengan pendekatan yang intensif kepada Residen Surakarta kala itu, akhirnya Pemerintah Hindia Belanda memberikan izin mendirikan sekolah. Pastor Van Lith memperoleh bantuan sebidang tanah di pinggiran Kota Klaten dari Bupati Klaten KRT Martanegara untuk mendirikan gedung sekolah.
Pada 1922 berdirilah HIS dengan Kepala Sekolah pertama Tuan Lamers. Sekolah tersebut, sekarang adalah SD Kanisius Sidowayah dan menjadi perintis berdirinya kompleks Gereja Paroki Santa Maria Assumpta Klaten. Selain mendirikan HIS, Pastor Van Lith juga membuka Standaard School (”Sekolah Angka Loro”) untuk anakanak pribumi yang kurang mampu di samping HIS.
Status wilayah Klaten pada awalnya merupakan Stasi dari Paroki Ambarawa. Namun ketika Pastor C. Stiphout, SJ pindah ke Solo pada 15 Oktober 1918 menjadi Pastor Paroki Purbayan, maka Klaten pun berubah statusnya menjadi salah satu Stasi dari Paroki Purbayan, Solo. Saat itu gembala yang secara bergantian mengunjungi Klaten adalah Pastor Janssen, SJ, Pastor Van Driessche, SJ, dan Pastor Cornelis Lucas, SJ. Pastor Lucas inilah yang pertama kali secara resmi ditunjuk untuk menggembalakan umat Katolik di Stasi Klaten.
Gereja yang dibangun oleh Pastor Van Driessche SJ di Kauman tidak mampu lagi menampung jumlah umat Katolik yang ada. Kemudian dibangunlah gereja di samping gedung HIS, yang terletak di tepi jalan kecil di pinggiran kota yang sekarang bernama Jalan Andalas. Gereja ini diberkati pada 12 Agustus 1922 dengan nama pelindung ”Beata Maria Virgo a Sacratissimo Sacramento” (Perawan Suci Maria dari Sakramen Mahakudus) oleh Pastor JF Stratter SJ sebagai pimpinan Kolese Ignatius di Yogyakarta. Pada 8 Agustus 1923 Stasi Klaten dinaikkan statusnya menjadi Paroki Klaten oleh Mgr. Edmundus Sybrandus Luypen, SJ, Vikaris Apostolik Batavia. Pastor Paroki Klaten pertama adalah Pastor C. Lucas SJ.
Pastor C. Lukas SJ bertugas di Paroki Klaten sampai dengan 29 Januari 1926. Beliau kemudian digantikan secara berturut-turut oleh Pastor JG Berndsen SJ (1926–1933), Pastor JS Versteegh SJ (1933–1935), dan Pastor D. Hardjosoewondo SJ (1935–1938). Berbagai terobosan untuk pembinaan umat dilakukan oleh para gembala bersama dengan para katekis dan pengurus gereja. Kegiatan tersebut antara lain adalah “Retret Rakyat” dan perayaan ”Hari Katolik” (Hari Paroki).
Pada 8 Maret 1942 tentara Hindia Belanda menyerah, maka mulailah percobaan mahaberat bagi Gereja dan bangsa Indonesia. Ketika tentara Jepang memasuki Klaten, gereja, pastoran, biara, dan sekolah-sekolah ditutup. Peralatan penting gereja dan Pastoran dipindahkan ke Sikenong, sementara Pastor Paroki Klaten Pastor B. Hagdoren SJ ditangkap oleh tentara Jepang. Akibatnya, semua kegiatan kerohanian dan peribadatan menjadi kacau. Umat merasa takut dan bingung karena tersiar kabar bahwa umat Katolik dilarang beribadah oleh tentara Jepang.
Dengan dekrit Contitutio Apostolica Vetus de Batavia, pada 25 Juni 1940 Paus Pius XII mendirikan Vikariat Apostolik Semarang dan mengangkat Pastor Albertus Soegijapranata, SJ sebagai Vikaris Apostolik yang pertama. Untuk membesarkan hati umat Katolik di Klaten, Mgr. Soegijapranata berkunjung ke seluruh Stasi di Paroki Klaten. Bahkan, untuk menenangkan umat didatangkan pula Pastor Jepang, Paul Koide, SJ. Setelah situasi tenang, gereja, pastoran, biara, dan sekolah-sekolah dibuka kembali.
Pada 1945 tentara Jepang menyerah kepada Sekutu, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia diproklamirkan. Keadaan damai hanya berlangsung beberapa saat, karena pada 19 Desember 1948 terjadi agresi militer Belanda yang kedua. gereja dan pastoran diduduki tentara Belanda, dan SD Kanisius Sidowayah dipakai sebagai markas tentara Belanda.
Pastor Paroki Klaten yang bertugas saat itu, Pastor Aloysius Purwodihardjo, Pr (1943–1948) yang dibantu Br. Mateus Tirtosumarto, SJ mengungsi ke Nglinggi. Gereja darurat bertempat di rumah Bapak Hardjasuwita di Kebayan Nglinggi. Selama dalam pengungsian, Pastor Aloysius Purwodihardjo dan Br. Tirtosumarto menempati rumah di sebelah gereja darurat serumah dengan Dr. Letkol Wonojuda.
Pastor Paroki Klaten ketika terjadi peristiwa pemberontakan G30S PKI adalah Pastor Leonardus van Woerkens, SJ. Pada waktu itu tersiar kabar bahwa gereja akan dibakar, maka umat Katolik membentuk Organisasi Penjaga Gereja dengan nama ”Brigade Pengawal Kristus”.
Pada 23 Oktober 1965 sejumlah kader Partai Komunis Indonesia wilayah Klaten membuat kekacauan dengan menebangi pohon di tepi jalan. Situasinya menjadi semakin genting. Oleh karena takut terjadi penculikan terhadap Pastor, maka para Pastor memakai pakaian preman.
Setelah peristiwa pemberontakan G30S PKI berakhir, umat Katolik di Klaten pun berkembang dengan cukup pesat. Gereja terasa kecil, tidak mampu lagi menampung umat Katolik yang hendak beribadat. Setiap penyelenggaraan misa pada hari-hari raya, gereja harus dibuka dan ditambahkan tenda serta tempat duduk untuk menampung umat.
Paroki Klaten Kehadiran parabiarawan dan biarawati sebagai mitra strategis di Paroki Klaten berdampak positif untuk pengembangan iman umat. Mitra strategis Paroki Klaten tersebut antara lain para Suster Ursulin, para Bruder FIC, dan para Pastor Jesuit yang mengelola Rumah Retret Panti Semedi.
Pada 12 Juli 1940 para Suster Ursulin datang ke Kabupaten Klaten dan mendirikan biara di Jalan Bali 9, dengan nama ”Biara Maria Assumpta”. Para Suster Ursulin di Klaten terutama mengambil peran menangani karya pendidikan dengan mendirikan sekolah TK, SD, dan SMP dengan nama Maria Assumpta.
Pada masa pasca kemerdekaan, para misionaris sulit masuk ke Indonesia. Oleh karena itu, panggilan rohaniwan pribumi dari Gereja setempat harus semakin ditingkatkan. Hal inilah yang memacu kehadiran Bruder FIC di Klaten. Tepat pada 25 Juli 1955 setelah Br. Antherus FIC, Provinsial FIC Indonesia menyetujui untuk mengambil alih pengelolaan SMP Putra dari Suster Ursulin.
Pada 1963 Pastor Jesuit mendirikan rumah retret di Sumberanom. Retret merupakan upaya untuk memperbarui dan menyegarkan iman Katolik umat agar tumbuh menjadi dewasa, mendalam, dan misioner. Pembangunan rumah retret baru selesai pada 1968 dan diberi nama ”Panti Semedi”.
Pertumbuhan jumlah umat yang terus meningkat, menyebabkan gereja yang dibangun pada 1922 sudah tidak mampu menampung umat dalam Perayaan Ekaristi setiap hari Minggu. Pada 26 Februari 1966 dibentuk Panitia Pembangunan Gereja Paroki Klaten. Ketua panitia Bapak BJ Suwoto, arsitek oleh Pastor Jusuf Bilyarta Mangunwijaya, Pr (Romo Mangun), dan timpelaksana oleh Tim Pembangunan Keuskupan Agung Semarang.
Pada 30 Oktober 1967 Uskup Agung Semarang, Justinus Kardinal Darmajuwana melakukan pencangkulan pertama menandai dimulainya pembangunan gereja baru Paroki Klaten. Pembangunan ini diawali dengan dibongkarnya gereja lama yang kemudian digunakan untuk membangun Gereja Jombor. Oleh Romo Mangun, ada bagian gereja lama yang tetap dipertahankan hingga kini, yang merupakan kesinambungan antara gereja lama dengan gereja yang baru. Selama proses pembangunan Gereja, umat Katolik di Klaten menyelenggarakan Perayaan Ekaristi di Gedung Pertemuan Ekokapti.
Pembangunan gedung gereja selesai pada 8 Desember 1968 dan diberkati oleh Uskup Agung Semarang, Justinus Kardinal Darmajuwana. Gereja diberi nama pelindung baru Santa Maria Yang Diangkat ke Surga dengan Mulia, yang kemudian lebih dikenal dengan nama “Santa Maria Assumpta”. Dipilihnya “Santa Maria Assumpta” sebagai nama pelindung baru Paroki Klaten dimaksudkan agar kerahiman Allah menumbuhkan perjumpaan umat yang semakin terbuka.
Bangunan baru ini menjadi Gereja yang fenomenal baik dari segi arsitektur maupun dari kedalaman hidup rohani. Gereja yang mencerminkan Ekklesiologi Pasca Vatikan II, yakni Gereja sebagai paguyuban umat beriman yang akrab, sederhana, dan terbuka. Paguyuban yang tidak sombong, tetapi rendah hati, bukan ratu tetapi pelayan. Gereja Santa Maria Assumpta Klaten tidak mempunyai muka, atau tepatnya menampakkan wajahnya ke segala arah. Dalam istilah Romo Mangun: ”Tidak triumphant, provokatif, tetapi penuh rasa rendah hati sebagai Bunda Maria yang menghadap ke segala putra-putrinya di semua kiblat papat menawarkan kasih sayangnya dengan segala kesederhanaannya yang manis.”
Setelah pada 1936 berdiri Paroki Santa Perawan Maria Bunda Kristus Wedi, pada 1962 berdiri Paroki Santo Yohanes Rasul Delanggu. Beberapa tahun kemudian diikuti dengan berdirinya Paroki Santa Theresia Jombor pada 1971 dan Paroki Roh Kudus
Kebonarum pada 1998.
Jumlah umat Paroki Klaten semakin tumbuh dan berkembang. Pada 1988 jumlah umat Paroki Klaten mencapai kurang lebih 17.500 jiwa. Sebagai upaya untuk meningkatkan pelayanan kepada umat, pada 1998 Stasi Kebonarum berkembang menjadi Paroki baru dengan jumlah umat 5.480 jiwa. Dengan berdirinya Paroki Roh Kudus Kebonarum, maka jumlah umat di Paroki Santa Maria Assumpta Klaten berkurang menjadi sekitar 12.500 jiwa.
Seiring dengan bertambahnya jumlah umat dan berdirinya Paroki-paroki baru tersebut, kualitas iman dan pelayanan Gereja juga semakin ditingkatkan. Upaya itu antara lain dilakukan melalui penataan dan pembinaan Katekis, Dewan Paroki, serta Pengurus Wilayah dan Lingkungan. Berbagai kegiatan retret dan rekoleksi umat pun dilaksanakan, termasuk KKDP (Kunjungan Kekeluargaan Dewan Paroki) sebagai salah satu program unggulan. Kunjungan ini merupakan sapaan kasih Dewan Paroki untuk mendengar dan melihat secara langsung kondisi keluarga-keluarga Katolik sebagai Gereja Kecil yang nyata di tengah masyarakat.
Pada 1998 hingga 2000 dilakukan pembangunan Gedung Panti Paroki dengan dua lantai. Lantai pertama digunakan untuk Sekretariat Pastoran, Sekretariat Dewan Paroki, Ruang Rapat, Perpustakaan, dan ruang pelayanan lainnya. Sedangkan lantai dua berfungsi sebagai ruang tidur para Pastor dan aula serba guna.
Pemekaran Stasi, Wilayah, Lingkungan, dan Jumlah Umat Perjalanan selanjutnya yang menandai perkembangan Paroki Santa Maria Assumpta Klaten pada periode 2005-2015 adalah pemekaran Wilayah dan Lingkungan serta munculnya kelompokkelompok kategorial. Pada 1998 jumlah Lingkungan sebanyak 32 Lingkungan, namun pada 2004 telah berkembang menjadi 56 Lingkungan.
Sejalan dengan dinamika pelayanan Gereja serta sesuai dengan Pedoman Dasar Dewan Paroki (PDDP) KAS 2004, pada 2005 jumlah Lingkungan telah berkembang menjadi 59 Lingkungan. Pada 2007 dilakukan pemekaran Lingkungan menjadi 64 Lingkungan, dan pada 2008 menjadi 77 Lingkungan.
Pada 15 Agustus 2010 bertepatan dengan peringatan Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga, jumlah Lingkungan berkembang menjadi 80 Lingkungan. Surat Keputusan pemekaran Lingkungan ini ditanda tangani oleh Pastor Evaristus Rusgiharta Pr. Pada 2011 terjadi pemekaran Lingkungan lagi menjadi 82 Lingkungan dan 19 Wilayah. Selanjutnya pada 2014 hingga 2017 telah mengalami pemekaran menjadi 88 Lingkungan dan 21 Wilayah.
Pada 2018 bertepatan dengan perayaan HUT Paroki ke-95, telah menjadi 89 Lingkungan dan 21 Wilayah. Berdasarkan data tahun 2017, jumlah umat Paroki Klaten 9.935 orang dengan 4.684 laki-laki dan 5.245 perempuan.
Berdasarkan Surat Keputusan Uskup KAS Nomor 0975/B/Ib-133/19 tertanggal 20 Juli 2019, Stasi Santo Ignatius Ketandan ditetapkan sebagai Paroki Administratif. Peresmian perubahan Stasi Santo Ignatius Ketandan menjadi Paroki Administratif Santo Ignatius Ketandan ditandai dengan Misa Ekaristi yang diselenggarakan pada 31 Juli 2019.
Selanjutnya berdasarkan Surat Keputusan Uskup KAS Nomor 0976/B/I/b-61/19 tertanggal 20 Juli 2019, paguyuban Wilayah-wilayah di Senden ditetapkan sebagai Stasi Santo Yusup Senden. Peresmian paguyuban Wilayah-wilayah di Senden menjadi Stasi Santo Yusup Senden dilaksanakan pada Misa Hari Ulang Tahun Paroki ke-96 yang diselenggarakan 15 Agustus 2019.
Sebagai upaya meningkatkan pelayanan sekaligus menata dan mengoptimalkan ruangan-ruangan gereja secara tepat, pada 2009 Dewan Paroki memutuskan perlunya pembangunan Pastoran dan Kantor Pelayanan. Proses pembangunan ini berlangsung selama 2009 hingga 2011. Pembangunan gedung 2 lantai ini memiliki luas bangunan 854,43 meter persegi.
Pada pembangunan ini juga dilakukan renovasi dan pem buatan bangunan dari gedung Pastoran lama. Renovasi dan pembuatan bangunan ini meliputi Kapel Adorasi, ruang Bendahara, sekretariat Dewan Paroki, pintu gerbang Pastoran, garasi, dan menara lonceng. Peresmian Pastoran dan Kantor Pelayanan Dewan Paroki termasuk Kapel Adorasi dilaksanakan bertepatan dengan HUT Paroki ke-88 oleh Bapa Uskup KAS, Mgr. Johannes Pujasumarta Pr.
Sejak 2014 Dewan Paroki mencoba mengembangkan Paroki Santa Maria Assumpta Klaten menjadi 3 pusat pelayanan pastoral, yaitu Gereja Santa Maria Assumpta, Gereja Santo Ignatius Ketandan, dan Gereja Santo Yusup Senden. Hal ini dimaksudkan agar Stasi Santo Ignatius Ketandan berkembang menjadi Paroki Administratif, dan paguyuban umat Santo Yusup Senden berkembang menjadi Stasi. Dewan Pastoral Paroki mendorong agar kedua pusat pelayanan pastoral tersebut memiliki kemandirian dalam tata penggembalaan, tata kelola administrasi, dan tata kelola harta benda.
Seiring dengan pertumbuhan dan perkembangan umat di Paroki Klaten tersebut berdiri juga Kapel-kapel dan Rumah-rumah Doa. Sampai dengan 2020 Kapel dan Rumah Doa yang ada di Paroki Klaten adalah Kapel Santo Yohanes Mojayan, Kapel Santo Yusup Tambong, Kapel Santo Petrus-Paulus Birin, Kapel Santo Yusup Jebugan, Kapel Kristus Raja Padangan, Kapel Santo Petrus Puluhwatu, Kapel Santa Maria de Fatima Jatinom, Rumah Doa Santo Christophorus Mranggen, Rumah Doa Santo Antonius Manjung, dan Mausoleum Makam Semangkak.
Komsos GMA (2025)