Epiklesis dalam Doa Syukur Agung
Makna Epiklesis
Epiklesis (dari Bahasa Yunani) secara harfiah berarti doa permohonan (=klesis) atas (=epi) persembahan. PUMR (Pedoman Umum Misale Romawi) 79.c menjelaskan: “Dalam doa-doa khusus ini Gereja memohon kuasa Roh Kudus, dan berdoa supaya bahan persembahan yang disampaikan oleh umat dikuduskan menjadi Tubuh dan Darah Kristus; juga supaya kurban murni itu menjadi sumber keselamatan bagi mereka yang akan menyambutnya dalam komuni.” Doa ini khususnya doa berkat atas piala yang menyebutkan juga permohonan agar Allah mengutus Mesias bagi umat Israel dan membarui Kerajaan Daud. Dalam liturgi Romawi dijadikan bagian dari Doa Syukur Agung dengan perubahan permohonannya. Secara liturgis “epiklesis” diartikan sebagai doa supaya Roh Kudus turun untuk mengubah roti dan anggur menjadi Tubuh dan Darah Kristus. Selain itu, Roh Kudus juga dimohon agar turun untuk mempersatukan seluruh jemaat. Selain permohonan, epiklesis sebenarnya juga merupakan suatu madah pujian bagi Allah Tritunggal. Tidak semua DSA (Doa Syukur Agung) dari tradisi liturgi Gereja memiliki epiklesis, tetapi semua DSA yang ada dalam Misa Romawi (2008) memilikinya, kecuali DSA I yang tidak secara gamblang (eksplisit) menyebut Roh Kudus.
Pentingnya epiklesis
Beberapa DSA kuno di luar versi resmi Misa Romawi terbaru juga mempunyai epiklesis. Roh Kudus diundang untuk menguduskan roti dan anggur dan memohon persatuan umat yang ambil bagian dalam perayaan (Tradisi Apostolik), untuk memberkati dan menyucikan persembahan, serta menghapuskan dosa, mengampuni dosa, harapan akan kebangkitan, dan hidup baru dalam Kerajaan Surga (anafora Addai dan Mari), untuk mengubah roti dan anggur menjadi Tubuh dan Darah Kristus (anafora Siro-Bizantium dan anafora St. Yohanes Krisostomus). Sudah sejak lama peran Roh Kudus dianggap penting dalam liturgi, khususnya pada bagian DSA. Konsili Vatikan II memandang perlu agar peran Roh Kudus dapat dikenali dan dirayakan dalam kehidupan Gereja, maka peran Roh Kudus itu ditegaskan juga saat DSA dalam Liturgi Ekaristi. PUMR 79.c menyebutkan: “Dalam doa-doa khusus ini Gereja memohon kuasa Roh Kudus, dan berdoa supaya bahan persembahan yang disampaikan oleh umat dikuduskan menjadi Tubuh dan Darah Kristus; juga supaya kurban murni itu menjadi sumber keselamatan bagi mereka yang akan menyambutnya dalam komuni.” Karya Roh Kudus itu tidak hanya menjadikan Kristus hadir dalam rupa roti dan anggur, tetapi juga untuk mempersatukan umat yang akan menyambut Tubuh dan Darah Kristus itu.
Ada berapa macam epiklesis dalam DSA?
Ada dua macam epiklesis: [1] epiklesis konsekrasi (atas roti dan anggur): “Maka kami mohon: kuduskanlah persembahan ini dengan pencurahan Roh-Mu, agar bagi kami menjadi Tubuh dan Darah Tuhan kami, Yesus Kristus…” (DSA II); dan [2] epiklesis komunio atau untuk kesatuan jemaat: “Dan kami mohon semoga kami yang menerima Tubuh dan Darah Kristus dihimpun menjadi satu umat oleh Roh Kudus…” (DSA II). Dalam DSA II, III, IV, epiklesis konsekrasi ditempatkan sebelum Kisah Institusi, sedangkan epiklesis komunio-nya setelah Aklamasi Anamnesis.
Sumber:
C.H. Suryanugraha, OSC, 2025, TERIMALAH, LAKUKANLAH (Memahami Misa Terkini), Yogyakarta: PT Kanisius, 203-205.