Bagaimana Cara Menerima Tubuh Kristus?
Menerima dengan lidah atau tangan?
Setidaknya hingga kini masih ada dua cara yang dipakai jemaat untuk menerima Tubuh Kristus. Masalah cara menerima ini diserahkan kepada Konferensi Para Uskup masing-masing. Cara menerima dengan memakai lidah (langsung ke mulut) adalah cara lama peninggalan Misa Tridentium 1570 (sebenarnya sudah muncul sejak sekitar abad IX/XI). Cara ini kadang-kadang masih kita temui di beberapa tempat, oleh beberapa umat saja. Misa Romawi yang sekarang tidak melarang cara ini tetap digunakan, meskipun dalam praktik yang tidk persis sama dengan praktik lengkap Misa Tridentium. Dulu harus berlutut, kini cukup berdiri saja atau sambil memberi sikap tubuh hormat sebelum menerima, misalnya berlutut. Cara menerima dengan (telapak) tangan mulai diperkenalkan lagi dalam Misa Romawi Paulus VI. Sebenarnya cara menerima dengan tangan sudah dipraktikkan sejak awal Gereja (abad I). RS 104 memberi larangan lebih tegas: “Umat yang menyambut, tidak boleh diberi izin untuk mencelupkan sendiri hosti ke dalam piala; tidak boleh juga ia menerima hosti yang sudah dicelupkan itu pada tangannya.” Yang boleh mencelupkan hanya para pelayan komuni yang memberikan langsung ke lidah penerima komuni.
Tangan kiri atau tangan kanan?
Hal ini juga sering ditanyakan umat. Tertulianus, Siprianus dan Sirilus pernah menyebut (telapak) tangan kiri bagaikan suatu takhta bagi (telapak) tangan kanan, yang akan menerima Tubuh Kristus, Sang Raja. Theodorus dari Mopsuestia menyatakan yang serupa: “Tangan kanan diulurkan untuk menerima…, tetapi tangan kiri diletakkan di bawahnya, dan dengan demikian penghormatan yang besar diperlihatkan.” Kini pada umumnya kita mempraktikkan sebaliknya dengan cara (telapak) tangan kiri di atas (telapak) tangan kanan, supaya tangan kanan dapat mengambil Tubuh Kristus itu dengan mudah. Sekali lagi, masalah ini diserahkan kepada setiap pribadi. Namun, jika dirasa perlu demi kebersamaan, pimpinan Gereja setempat dapat mengambil kebijaksanaan khusus bagi Gereja-gereja di wilayahnya.
Tubuh Kristus! Amin!
Pelayan komuni mengucapkan “Tubuh Kristus” (Corpus Christi) sebelum memberikan Hosti Suci kepada penerima. Penerima langsung menjawab “Amin,” ketika menerima Tubuh Kristus itu, lalu langsung menyantap-Nya. Sebaiknya sikap hormat ditunjukkan baik oleh petugas maupun penerima komuni. Petugas menunjukkan dulu hostinya kepada penerima sebelum memberikan. Penerima melihat Hosti Suci itu, menundukkan kepala, sambil berkata “Amin.” Jika diberikan dalam dua rupa, maka rumusnya dapat menjadi “Tubuh dan Darah Kristus” (Corpus et Saunguis Christi), meskipun “Tubuh Kristus” juga sudah cukup. Jawabnya sama: “Amin.” Rumus dialog singkat ini merupakan suat pengakuan iman dari pihak petugas dan penerima. Teksnya sudah sejak abd IV (dalam Konstitusi Apostolik, serta tulisan Ambrosius, Yohanes Krisostomus, dan Theodorus dari Mopsuestia).
Kena gigi, dosakah?
Pertanyaan yang sering diungkapkan ini boleh dijawab dengan tegas: tidak! Makan Hosti Suci mengenai gigi bukan tindakan dosa. Masalah dosa tidak dinilai dari itu. Bentuk hosti memang beraneka ragam. Ada yang tebal, ada yang tipis. Yang tipis dan kecil biasanya luluh begitu kena lidah, tanpa dikunyah pun bisa langsung ditelan. Sedangkan yang tebal dan besar rupanya perlu diperlakukan secara khusus. Gigi sebagai sarana utama untuk makan tentu saja janganlah disia-siakan. Biarlah gigi ikut melayani kita menyantap Tubuh Sang Ilahi. Kecuali, bila ada yang sakit gigi atau sudah ompong . . .
Komuni dua rupa?! Mengapa tidak?
Istilah ini menunjuk pada praktik menerima komuni dalam dua bentuk, yakni Hosti (Tubuh) dan Anggur (Darah) Kristus. Cara lazimnya: [1] Tubuh Kristus disantap dulu lalu penerima minum Darah Kristus langsung dari piala yang diberikan oleh pelayan komuni; atau [2] Tubuh Kristus dicelupkan dalam piala Darah Kristus oleh pelayan komuni, lalu Tubuh dan Darah yang menyatu itu baru disantap penerima. Menerima dalam dua bentuk atau dua rupa sering menjadi pertanyaan umat. Sementara imamnya selalu menyantap dua rupa, mengapa jemaat pada umumnya hanya menerima satu rupa saja? Di beberapa gereja/paroki atau pada kesempatan khusus ada juga imam yang memberikan komuni dua rupa kepada jemaatnya. Nah, memang ini tergantung siapa imamnya. Sebenarnya, menerima Tubuh atau Darah Kristus adalah sama nilainya. Dalam Tubuh atau Darah, kita telah menerima dan menyantap Kristus sendiri. Kita telah dipersatukan dalam Kristus. Yang penting: partisipasi akan lebih mendalam jika komuni sakramental itu dilandasi oleh keadaan batin yang sesuai. Masalah satu atau dua rupa sebenarnya hanyalah masalah praktis. Membagikan hosti rupanya lebih mudah daripada membagikan anggur. Faktor kesehatan dan ekonomis ikut memengaruhi perlu tidaknya komuni diberikan dalam dua rupa. Kebijaksanaan menentukan satu atau dua rupa ini diserahkan kepada Gereja setempat (paroki, keuskupan).
Jika kehabisan Hosti Suci?
Sering terjadi bahwa persediaan hosti yang sudah dikonsekrasi pada saat Misa itu tidak mencukupi untuk umat yang hadir. Sementara juga tidka ada lagi yang tersimpan di dalam tabernakel. Dalam situasi darurat seperti itu ada cara lain, yaitu imam dapat memberikan anggur (Darah Kristus) saja. Maka sebaiknya anggur jangan langsung dihabiskan oleh imam sebelum ia membagi komuni. Ini untuk antisipasi, kalau saja terjadi kekurangan Hosti Suci. Meski dalam keadaan sangat terpaksa, imam tidak diperbolehkan mengonsekrasi satu bahan persembahan (roti/anggur) tanpa yang lain; atau juga keduanya di luar Perayaan Ekaristi (KHK, kan. 927). Ada praktik yang ternyata keliru, yakni ketika imam mengambil hosti yang belum dikonsekrasi dan mencelupkannya ke dalam piala Darah Kristus dan memberikannya kepada umat. Ini bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hosti tertular Darah Kristus dan menjadi terberkati? Hosti yang belum dikonsekrasi dijadikan sarana perantara menerima Darah Kristus? RS 104 dengan tegas melarangnya: "Hosti yang dipergunakan untuk pencelupan itu harus dibuat dari bahan yang sah dan harus sudah dikonsekrasi atau yang terbuat dari bahan lain." Jika akhirnya tak ada lagi yang bisa dibagikan sementara masih ada umat yang mengantri, patutlah diberitahukan dan meminta maaf atas kejadian itu. Lebih baik berkata apa adanya daripada berlaku kurang jujur dengan membagikan hosti yang "seolah-olah" suci karena sudah dicelupkan dalam piala. Peristiwa tak terduga seperti itu memang biasa terjadi dan sebaiknya sudah selalu bisa diantisipasi untuk menghindarinya. Persiapan perlu dilakukan dengan lebih cermat, tak hanya oleh koster, tetapi terutama oleh imamnya sendiri.
Sumber:
C.H. Suryanugraha, OSC, 2025, TERIMALAH, LAKUKANLAH (Memahami Misa Terkini), Yogyakarta: PT Kanisius, 274-279.